TERNYATA DIA.....
Oleh : Indah Jewel
Tiba-tiba akupun tersentak dari lamunanku. Ternyata ada telepon masuk, tapi tidak ada namanya dan aku juga tidak kenal dengan nomor itu, “ kira-kira siapa ya?”tanyaku dalam hati. Akupun penasaran, lalu aku angkat telepon itu. “Hallo”…ucap orang itu. Suaranya terdengar seperti suara laki-laki. Akupun menjawab, “iya..ini siapa ya?”.“Kamu Elfa ya?”..“Iya, aku Elfa” ..“Kamu sendiri siapa,kok tau namaku? “Aku temen kamu waktu SMP di Padang.”
Sebelumnya aku mengira, orang itu adalah sepupuku, Roni, suaranya mirip banget, aku sempat gak percaya, karena Roni sering ngerjain aku pake telepon. Aku sempet bete, karena dia tidak mau menyebutkan namanya. Masalahnya, dia itu tahu tentang aku, berarti dia adalah orang yang kenal denganku. Kejenuhanku pun sudah mencapai puncaknya, aku bosan mengobrol dengan orang yang aku tidak tahu siapa dia, akupun langsung mematikan telepon itu tanpa berbasa basi. Kemudian nomer itu telepon lagi, aku angkat lagi dan aku jawab dengan nada kesal, “kamu siapa sih?” Kurang kerjaan banget, bisanya ngerjain orang aja. Kalau gak mau kasih tahu nama kamu siapa, aku bakal matiin telepon ini, ancamku padanya. Akhirnya dia bilang, “namaku Adi Afandy… dulu kita sempet satu kelas, kelas 3-3. Masih inget gak?” Kita juga sering pulang sekolah bareng. Akupun langsung memutar memoriku masuk ke masa SMP dulu. Seingatku, aku gak punya temen yang namaya Adi Afandy, apalagi sering pulang sekolah bareng. “Kalau memang kamu adalah teman SMPku di Padang, aku bener-bener minta maaf, aku benar-benar lupa, wajarlah karena sudah hampir enam tahun tidak bertemu.”
Aku pindah ke Padang saat kelas lima SD, kami sekeluarga pindah karena rumah kami yang ada di Jakarta dijual untuk biaya berobat ibuku. Kami tinggal di Padang selama kurang lebih dua tahun. Tapi ayahku tidak betah tinggal di sana, sebab mata pencaharian disana hanya sebagai petani sedangkan ayahku adalah seorang supir. Jadi, ayahku balik lagi ke Jakarta sendiri. Aku, ibu dan adik perempuanku, kami tinggal di Padang. Tetapi karena terjadi masalah, maka kami memutuskan untuk menyusul Ayah ke Jakarta. Jika suatu keluarga bersatu dan bersama dapat menghadapi masalah yang ada.
Aku pindah lagi ke Jakarta saat aku kelas satu SMP. Tapi aku sempat sekolah SMP di Padang selama tiga bulan. Aku harus menghadapi masa adaptasi lagi atau penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baru ketika menginjakkan kaki di sekolah di Jakarta. Hingga kini kami masih tinggal di Jakarta. Kami tinggal di sini sudah enam tahun dan belum pernah lagi pulang ke Padang. Tidak terasa sudah dua jam aku dan Adi mengobrol lewat telepon, kupingku sudah terasa panas. Kami akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembicaraan. “Terimakasih ya, kamu masih inget sama aku”….” Iya sama-sama”.
Mendengar dari ceritanya, dia itu maksudku Adi, sekarang tinggal di Palembang, dia sedang mengikuti tes untuk masuk sekolah akademi TNI. Dia tidak melanjutkan ke universitas. Adi tinggal bersama pamannya. Ternyata dia dapat nomer aku dari Ronal. Ronal adalah teman SMPku juga di Padang. Ketika di SMA, dia dan Ronal satu kelas lagi. Kalau sama Ronal, aku masih ingat karena Ronal adalah ketua kelas. Jadi wajahnya sering terlihat, karena sering disuruh-suruh oleh guru. Ronal mendapat nomorku dari Meri, sahabatku. Sejak saat itu, Adi sering menelponku atau meng-sms-ku. Hubungan persahabatan kami menjadi lebih baik dan semakin akrab.
Hari itu, hari rabu, aku kaget ada telepon dari Adi, padahal ini kan bukan hari minggu atau hari libur nasional, tapi kenapa Adi menelpon ya? Ternyata dia sedang piket dan boleh menggunakan handphone. Disela-sela pembicaraan, dia sempat berkata bahwa dulu dia menyukaiku. Lalu dia langsung berkata, “kamu mau jadi pacarku nggak?”. Aku terkaget, seperti mendengar ombak yang berdeburan di danau Singkarak. Tanganku langsung dingin bagai memegang es didalam frezzer. Aku terdiam. Adipun bertanya apakah aku menerimanya. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan. Aku ragu. Akhirnya aku memutuskan untuk menolaknya. Padahal itu adalah pertama kalinya aku “ditembak” oleh seorang cowo. Dan pertama kali juga aku menolaknya. Aku tidak yakin apakah dia benar-benar belum punya pacar. Aku saja tidak tahu dia itu seperti apa, aku lupa dengan wajahnya, dan selama ini aku hanya kenal dari suaranya saja. Dari ceritanya selama ini, sepertinya Adi dibesarkan dalam keluarga yang berada. Sedangkan aku adalah anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat sederhana dan serba kecukupan. Ini merupakan salah satu alasanku mengapa aku menolak Adi. Aku takut dia menganggapku cewe yang hanya melihat cowo dari profesinya.
Tapi, setelah aku berkata untuk menolaknya, dia terus merayu dan menyakinkanku untuk menerima dia. Akupun mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi lagi-lagi dia kembali kepada topik semula. Karena kebetulan Adi juga sibuk, jadi ada alasan untuk mematikan teleponnya.
Kegiatanku selain ke kampus juga membantu orangtua berjualan nasi atau masakan padang.. Setelah pulang kuliah, aku langsung menuju warung untuk membantu ibu mencuci piring atau bagian bersih-bersih. Semua kulakukan agar terus bisa kuliah sampai lulus sarjana ekonomi strata satu. Dengan harapan meraih cita-cita demi mencapai kehidupan yang lebih baik lagi daripada sekarang. Pelanggan nasi di warung ibuku sebagian besar adalah mahasiswa, jadi harga yang ditawarkan cukup terjangkau sesuai kantong mahasiswa.
Dan tidak terasa tahun pun sudah berganti dari tahun 2008 ke tahun 2009, aku belum dapat kabar dari Adi. Aku nggak tau gimana keadaan dia sekarang. Walaupun aku bukan siapa-siapanya, tetapi aku mengganggp dia sahabat baikku. Sekarang sudah bulan Mei. Hari ini warung agak sepi. Aku sedang melipat-lipat tisu dan kebetulan ibu sedang sholat. Handphone ku berbunyi, ada panggilan masuk. Tapi tidak ada namanya, siapa ya? Lalu langsung aku angkat saja. Dan ternyata, suaranya terdengar seperti suara seseorang yang kukenal. “Hallo,..Ini Elfa ya? Ini aku… Adi.” Tenyata Adi yang menelponku.
Oh Adi..apa kabar? “Iya baik,. maaf ya aku udah lama nggak telepon kamu, aku ganti nomer, soalnya nomer aku hilang”. “Jadi baru bisa menghubungi sekarang”. “Iya nggak apa-apa, jawabku”. “Sekarang aku lagi tugas di Malang. Oya, kamu tinggal di Jakarta dimananya”? “Aku bukan tinggal di Jakarta tapi lebih tepatnya Banten. Aku tinggal di Ciputat”. “Ya..tunggu aja, nanti aku akan cari kamu”. “Ngapain kamu cari aku”?? “Ya.. Aku pengen tau aja wajah kamu sekarang seperti apa. Emang nggak boleh apa”? “Boleh sih”.. “Oya..udah dulu ya, aku mau tugas lagi, udah dipanggil sama komandan”. “Ya udah…jawabku murung”. Selalu begitu, kalau ngobrol pasti nggak pernah sampai tuntas, ada aja yang bikin pembicaraan terhenti. Maklumlah punya temen tentara, sibuk dan jarang punya waktu luang.
Waktu begitu cepat berjalan, kini sudah masuk bulan Juni. Lagi-lagi nomer Adi tidak aktif. Didalam mobil angkutan umum yang sepi membuatku melamun sejenak. Untung saja aku tidak menerimanya jadi pacarku, kalau tidak aku akan kecewa, karena jarang dihubungi atau bahkan tidak akan pernah bertemu apalagi jalan bareng. Adi itu seperti apa ya, aku hanya bisa membayangkan, bahwa dia itu pasti tinggi dan tingginya pasti lebih dari 170cm. Mungkin, kulitnya hitam karena sering berada di lapangan. Dan potongan rambutnya pasti cepak ala tentara, ya memang dia tentara. Hehe… Nggak kebayang kalo nanti aku ketemu sama dia. Aku hanya seorang anak kuliahan yang memiliki tinggi kurang dari 160cm dan badanku kurus pula. Apa jadinya kalau aku berdiri disamping dia. Pasti orang akan menyangka kalau aku adalah adiknya bukan teman sebayanya.
Akupun tersentak, ternyata sudah hampir sampai di warung ibu, dan akupun turun dari angkot. Setelah ganti baju aku langsung bersih-bersih meja. Saat itu ada dua orang laki-laki yang ingin makan, karena ada ibu jadi ibu yang mengambilkan makanannya. Lalu aku kebelakang sambil membawa piring kotor yang tadi menumpuk di atas meja. Dua orang itu sepertinya bukan orang sini, sepertinya juga bukan mahasiswa, karena dilihat dari penampilannya seperti orang yang sudah bekerja. Orang itu bertanya pada ibuku, dimana daerah ciputat, ternyata sedang mencari alamat. Ibu pun menjawab, disini juga masih termasuk daerah ciputat, tapi kalau pasar ciputatnya masih disana lagi. Setelah aku selesai bersih-bersih di belakang, lalu aku keluar, ternyata dua orang itu sudah pergi.
Saat ini tepat tiga bulan Adi belum menelpon aku lagi. Terakhir kali dia bilang, dia lagi ada di Malang. Entah mengapa aku merasa aneh jika Adi tidak menelponku dalam waktu yang lama. Hari ini siaran lagu-lagu diradio bagus dan enak didengar semua, dan lagi-lagi aku dikagetkan oleh nada dering hp ku yang berbunyi lagu korea yaitu Ost. Princess Ours. Ada telepon masuk, dan itu panggilan dari Adi. Ya Tuhan apakah maksudnya ini, aku baru saja memikirkan dia, mengapa setelah itu dia menelponku. Menurutku itu hanya kebetulan saja. Tapi ada yang beranggapan bahwa semua yang tejadi di bumi ini tidak ada yang kebetulan. Karena memang semuanya yang ada di bumi ini sudah diatur dan direncanakan oleh Tuhan. Dan memang setiap kali aku memikirkan dia, lalu tiba-tiba dia menelponku. Aku jadi bingung. Ya sudahlah. Akupun mengangkat teleponnya.
Seperti biasa, obrolan kami hanya seputar menanyakan kabar dan kegiatan sekarang apa. Yang membuatku lagi dan lagi, terkaget adalah bahwa sekarang dia ada di Jakarta dan memang di sela-sela hidup ini penuh dengan kejutan-kejutan, yang benar-benar membuat kita terkejut akan sesuatu yang kita nggak tau apa dan hal apa lagi yang bakal terjadi selanjutnya dalam hidup kita. Dia ada di Tanjung priok. Dia bilang, dia ingin dipindahkan dari Malang ke Jakarta supaya bisa bertemu aku. Sedikit gombal sih kata-katanya itu. Ya aku merasa senang aja karena dengan dia ada di Jakarta peluang aku dan Adi untuk ketemuan cukup besar, walau nantinya entah bisa bertemu atau tidak. Aku merasa apakah ini yang dinamakan jodoh. Aku nggak pernah menduga, dia bakal dipindahtugaskan ke Jakarta. Dan Adi ngajak ketemuan, dia mau ketemuan tapi di terminal Tanjung priok, sebab dia bilang biar sekalian langsung dari tempat asramanya dan dia juga baru disini, jadi cuma tahu daerah Tanjung priok saja. Yang jadi permasalahan, tempat itu lumayan jauh dari rumahku. Pasti aku tidak boleh kesana sendiri oleh orangtuaku. Dan nggak ada juga yang bisa nganter aku kesana. Setelah dipikir-pikir akhirnya aku menerima janji itu. Kami janji ketemuan satu minggu lagi.
Hari ini hari kamis. Minggu ketiga dibulan Agustus. Sudah satu minggu berlalu, sekarang saatnya aku bertemu Adi. Hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Akupun berangkat dari rumah pukul sebelas siang. Perjalanan yang cukup melelahkan, karena macetnya Jakarta jadi aku harus berangkat lebih awal dari jadwal sebenarnya. Setibanya aku disana, Adi belum terlihat, kayaknya dia belum datang. Semoga aja dia nggak terlambat. Dia kan disiplin pasti tepat waktu. Jadi, aku nggak kayak kambing congek, nungguin dia sendirian di terminal. Tiba-tiba ada satu orang yang menghampiriku, aku takut kalau-kalau itu orang perampok atau sejenisnya, tapi sepertinya bukan, hanya orang iseng aja, karena dia bertanya padaku. Aku tidak terlalu meladeninya. Aku tidak menghiraukannya dan aku pergi menjauh dari orang aneh itu.
Setelah itu, ada satu orang lagi yang menghampiriku, dan aku jadi lebih berhati-hati lagi. Tapi, orang ini beda, penampilannya rapi, dari dekat aku seperti pernah melihat orang ini, dimana ya, otakku terus berpikir, mengingat lagi dimana aku pernah bertemu dengan orang ini, aku terdiam, aku tidak menghiraukan pertanyaan orang ini. Oh iya, aku baru ingat, aku pernah lihat orang ini sewaktu di warung ibuku, dia pernah makan di warungku. Dan aku tersadar, kalau tadi orang ini bertanya padaku, aku malah melamun saja. “Maaf, tadi anda mau tanya apa ya?” Apakah kamu yang bernama Elfa?” jawab orang ini. “Loh kok dia tahu nama aku ya? Apakah waktu itu ibu memberitahukan namaku, tapi nggak mungkin”, ucapku dalam hati. “Iya benar saya Elfa, anda siapa ya”? “Masa lupa, kita kan janjian ketemu disini”. “Aku bingung”. “Jangan bingung dong, kenalkan nama aku Adi”. Mendengar nama itu, paru-paruku seperti kekurangan oksigen, aku susah bernapas, tanganku dingin. Ternyata dia adalah Adi. “Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu pakai baju biru, ya udah aku deketin kamu dan nanya ke kamu, apa kamu yang namanya Elfa”. “Eh kamu malah bingung”. “Ya ampun kenapa aku jadi amnesia sesaat gini ya”?. “Gara-gara aku mikir dimana aku pernah ketemua dia. Aku jadi lupa sama pertemuanku dengan Adi”. “Jadi kamu bener Adi kan”?. Ya iyalah, aku Adi, emangnya siapa lagi. Ya Tuhan, ternyata dia.. Ternyata dia, orang yang pernah makan di warungku. Ternyata dia adalah Adi. Ternyata aku pernah bertemu dia sebelumnya. Tapi saat itu, aku tidak mengenalinya. Dan aku memang benar-benar tidak ingat dengan wajah Adi sedikitpun. Benar-benar kejutan yang tak pernah terduga olehku.
Adi tidak ingat pernah bertemu denganku sebelumnya, karena aku waktu itu tidak menampakkan wajahku dengan jelas, dan aku juga langsung kebelakang untuk beres-beres, tapi aku melihat wajah dia dengan jelas sebelum masuk ke warungku. Dan akhirnya aku ceritakan hal itu pada Adi. Dia baru ingat. Aku sungguh merasa senang hari ini. Dan aku tidak sabar ingin menceritakan langsung pada ibu, kalau dia yang pernah singgah di warungku itu, ternyata dia adalah Adi, Adi Afandy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar