PERPISAHAN DUA SEPTEMBER
Saat itu pertengahan bulan Juli. Udara tidak terlalu panas, tapi cukup cerah. Aku sedang melamun sendiri di ruang tamu. Tidak ada kesibukan yang berarti. Karena aku baru saja mengikuti Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah dua minggu yang lalu. Pengumuman kelulusanpun sudah aku lewati. Alhamdulillah aku lulus. Aku sangat bersyukur walupun nggak dapet nilai yang maksimal. Tapi aku sudah berusaha semampuku. Pantaslah kalau aku hanya bisa melamun saja dan bermalas-malasan dengan sedikit mendinginkan otak yang panas akibat persiapan belajar untuk menghadapi UN dan UAS tersebut.
Entah apa yang membuatku berpikir untuk menanyakan nomor handphone seseorang kepada temanku yang ada di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sebenarnya aku cuma iseng saja. Temanku namanya Rifka. Lalu aku mngirim sms pada Rifka. Aku nggak nyangka ternyata Rifka punya nomor hp yang aku tanyakan tadi. Untuk memastikan apakah nomor itu benar, maka aku memberanikan diri untuk mengirimkan sms pada nomor itu.
Handphoneku berbunyi, dia membalas sms ku, ternyata benar dia adalah Elwizar. Aku biasa memanggilnya El. Tapi..dia nggak inget sama aku. Dia sudah lupa. Maklumlah sudah enam tahun kami tidak pernah bertemu. Ternyata dia sekarang ada di Jakarta . Sebenarnya dia tinggal di Bukittinggi juga sama seperti aku dan Rifka. Tetapi aku tinggal di Bukittinggi dulu sekali sekitar enam tahun yang lalu. Aku tidak mengira, bakal ketemu dia di Jakarta. Aku sedikit kecewa. Padahal aku inget banget sama dia. Aku tidak akan pernah lupa dengan yang namanya El. Dia adalah cowo yang cukup terkenal waktu di SMP dulu. Karena dia punya senyuman yang dapat membuat cewe-cewe di sekolah terpesona. Dia lumayan tinggi, rambutnya cepak gitu. Kulitnya tidak terlalu hitam dan tubuhnya tidak terlalu kurus. Memang aku akui, dia punya senyuman yang menawan itu.
Aku kenal El bukan saat kami SMP melainkan sejak sekolah dasar (SD) tepatnya ketika kelas lima . Sebenarnya El adalah teman bermain dan teman mengaji, ketika aku masih tinggal di Bukittinggi. Tapi, aku tidak satu sekolah dengan El. Hanya SMP saja aku satu sekolah dengan dia. Kami cukup dekat waktu itu, karena rumah kami berdekatan, kami tetanggaan gitu. Kami sering bertemu saat mengaji dan bermain bersama.
Aku pindah ke Bukittinggi saat kelas lima SD , kami pindah karena rumah kami yang di Jakarta dijual untuk biaya berobat ibuku. Kami tinggal di Bukittinggi selama kurang lebih dua tahun. Tapi ayahku tidak betah tinggal di sana , sebab mata pencaharian di sana hanya sebagai petani sedangkan ayahku adalah seorang supir. Jadi, ayahku balik lagi ke Jakarta sendiri. Aku, ibu dan adik perempuanku, kami tinggal di Bukittinggi. Bulan pertama, kedua, dan ketiga kami menerima kiriman uang dari ayah. Tetapi bulan selanjutnya dan selanjutnya ayah tidak mengirimkan uang sepeserpun. Ternyata ayahku menganggur. Jadi, kami memutuskan untuk menyusul ayah ke Jakarta . Mungkin jika suatu keluarga bersatu dan bersama dapat menghadapi masalah yang ada. Mungkin juga Bukittinggi tidak cocok untuk kami. Padahal aku sangat menyukai kampungku itu. Keindahan alamnya yang menakjubkan, makanan yang enak dan permainan yang unik serta para penduduk yang masih sangat lugu yang belum terkena imbas dari pengaruh globalisasi, membuatku bingung, aku harus memilih antara Bukittinggi atau Jakarta. Akhirnya kami mulai hidup merantau lagi ke Jakarta . Tapi semua kenangan yang ada di Bukittinggi tidak akan terlupakan olehku. Itu adalah pengalaman yang berharga dalam hidupku. Begitu juga dengan teman-teman yang ada di sana , aku tidak akan pernah lupa dengan mereka semua. Aku bawa kenangan itu ke Jakarta bersama diriku dan akan ku simpan dalam hatiku selamanya.
Aku pindah ke Jakarta lagi saat aku kelas satu SMP. Tapi aku sempat sekolah SMP di Bukittinggi selama tiga bulan. Aku harus menghadapi masa adaptasi lagi atau penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baru ketika menginjakkan kaki di sekolah di Jakarta . Begitu juga dengan gaya bahasa atau logat bahasa yang harus aku sesuaikan dengan gaya bahasa Indonesia atau gaya bahasa Jakarta . Karena di Bukittinggi aku selalu menggunakan bahasa Minang. Jadi, aku cukup kagok saat pertama kali berbicara bahasa Indonesia . Hingga kini kami masih tinggal di Jakarta . Kami tinggal di sini sudah tujuh tahun dan belum pernah lagi pulang ke Bukittinggi.
Dua hari kemudian setelah aku mengirim sms pada El, dia menelponku. Kami bercerita dan mengenang masa dulu saat bermain dan mengaji bersama. Kami mengobrol cukup lama. Tidak terasa ketika aku melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan tepat. Padahal dia menelponku dari pukul tujuh pagi tadi, saat aku baru bangun tidur. Itu artinya sudah dua jam kami berbicara. Sampai-sampai telinga ku terasa panas. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan, sebab aku ingin pergi ke sekolah untuk mengambil ijazah. Kami pun menutup telpon masing-masing. Aku bergegas ke kamar mandi. Aku hampir terlambat. Aku lupa kalau aku masuk pukul sepuluh. Dari situ kami sering telpon atau sms tapi kami belum sempat bertemu. Dan hubungan komunikasi kami semakin baik.
Ketika awal bulan Agustus, kami sepakat untuk janjian ketemu di terminal Blok M, sebab dia bilang biar sekalian, dia mau langsung pergi ke tempat saudara sepupunya. Kami janji hanya bertemu sebentar saja. Walau agak aneh, mengapa kami janjian di terminal, tapi memang itulah kenyataannya, bukan berarti tidak ada tempat lain yang lebih bagus, tapi mungkin sudah jodohnya kami bertemu disana. Saat itu dia sempat membuat aku kecewa. Aku nungguin dia lama banget. Alasan dia yaitu dia takut kena karma atau semacamnya, karena dia pernah janji sama temannya tapi dia nggak dateng, dia bohongin temannya. Dan dia takut hal itu kejadian sama dia. Jadi dia bener-bener mastiin kalau aku benar datang dan udah nungguin dia. Aku sempet kesel. Tapi, nggak apa-apa, yang penting dia beneran dateng. Jadi, aku nggak kayak kambing congek, nungguin dia sendirian di terminal.
Saat dia menghampiriku, aku terpaku melihatnya. Walaupun sedikit berubah, tetapi dia masih terlihat manis seperti dulu. Buktinya aku masih ingat ketika dia mendekati aku, akupun langsung mengenalinya. Pertemuan itu cukup berkesan bagiku meski ada sedikit masalah. Dan sangat sebentar.
Di bulan Agustus ini, aku sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk Universitas dan mencari-cari universitas alternatif jika aku tidak lulus. Ternyata benar, aku tidak lulus masuk Universitas Negeri, jadi aku harus masuk Universitas swasta yang berada tidak jauh dari rumahku. Setelah aku diterima, aku masih disibukkan dengan persiapan untuk OSPEK. Dan aku tidak sempat menelpon atau meng-sms El. Kadang-kadang dia yang meng-sms atau menelponku. Sepertinya dia juga sedang sibuk dengan pelatihannya itu. Elwizar adalah lulusan SMA Pelayaran. El memang idak suka dengan pelajaran hitungan-hiungan atau menghafal banyak kalimat. Dia lebih suka berpetualang dan menghadapi tantangan. Makanya dia masuk sekolah pelayaran. Dia pergi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan atau training dan juga seperti kursus tambahan. Setelah dapat sertifikat, barulah bisa diajukan sebagai modal untuk berlayar ke Luar Negeri.
Bulan Agustus sudah berganti menjadi bulan September, El tidak pernah menelpon atau meng-sms ku lagi. Sebenarnya ada apa ya dengan dia? Apakah dia sudah pergi berlayar ke Jepang? Karena saat terakhir kali dia menelponku, dia bilang dia mau pergi berlayar ke Jepang. Tetapi, jika semua pelatihannya sudah dia selesaikan. Dan itu belum pasti, katanya. Akupun mencoba menelpon dia, ternyata nomornya tidak aktif. Aku terus mencoba, tetap saja tidak bisa. Aku bertanya pada temanku Rifka, dia juga tidak tahu. Jadi, aku pasrah saja. Aku tetap menjalani kehidupanku yang baru yaitu sebagai seorang mahasiswi.
Kini sudah berganti tahun dari tahun 2007 menjadi 2008, aku belum dapat kabar tentang El. Hampir satu tahun aku tidak tahu sekarang El dimana. Walaupun dia bukan siapa-siapa aku, tapi aku menganggap dia adalah teman baikku. Sebenarnya saat seminggu sebelum aku bertemu El di Blok M itu, dia menelponku, dia sempat berkata bahwa dulu dia menyukaiku. Lalu El langsung berkata, “kamu mau jadi pacarku nggak?”. Aku terkaget, seperti mendengar ombak yang berdeburan di danau Singkarak. Tanganku langsung dingin bagai memegang es didalam frezzer. Aku terdiam. El pun bertanya apakah aku menerimanya. Aku tak tahu apakah yang harus aku katakan. Aku ragu. Akhirnya aku memutuskan untuk menolaknya. Padahal itu adalah pertama kalinya aku ditembak oleh seorang cowo apalagi dia adalah cowo yang aku suka. Dan pertama kali juga aku menolaknya. Aku juga tidak yakin apakah dia benar-benar belum punya pacar. Soalnya setahuku dulu di Bukittinggi dia adalah cowo playboy. Tapi nggak tahu deh, sekarang dia sudah berubah atau belum. Aku memang tidak pernah membuka diriku untuk seorang cowo, aku menganggap semua itu tidak perlu, aku juga takut konsentrasiku pada pelajaran di sekolah akan terganggu. Makanya sampai aku lulus dari SMA seperti sekarang ini, aku belum pernah pacaran. Karena aku hanya menganggap dia sebagai teman baikku. Dan cinta itu hanya akan aku simpan dalam hati saja. El dibesarkan dalam keluarga yang cukup kaya. Kakek dan nenek nya adalah orang yang terpandangan dikampung. Sedangkan aku adalah anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat sederhana dan serba kecukupan. Ini merupakan salah satu alasanku mengapa aku menolak El. Tapi, setelah aku berkata untuk menolaknya, dia terus merayu dan menyakinkanku untuk menerima dia. Akupun mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi lagi-lagi dia kembali kepada topik semula. Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan pembicaraan, karena dia menelponku pada malam hari, jadi aku punya alasan bahwa aku sudah mengantuk.
Bulan ini adalah bulan Agustus dimana saat itu aku bertemu El untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya. Awal bulan ini saudara sepupuku akan melangsungkan pernikahannya. Karena acaranya dilangsungkan pada hari minggu, jadi aku bisa hadir disana. Hari minggu sudah tiba. Aku dan keluargaku bersiap untuk pergi ke utara Jakarta . Sesampainya disana, aku merasa senang sekali, sebab aku bertemu saudara dan kerabat yang sudah lama tidak bertemu dan yang dari Buukittinggi juga hadir. Pokonya rame banget..
Ketika aku sedang duduk dan mengobrol dengan adikku, tiba-tiba sepupuku yang satu lagi, namanya Nita, dia datang menghampiriku dan berkata “kak Merlin, tahu nggak? Elwizar kan dateng ke acara ini, sekarang dia ada disini”, ucapnya. Aku kaget banget denger ucapan sepupuku itu. “yang bener? Kamu nggak salah lihatkan?”, jawabku dengan nada menuduh. “ bener kok.. liat aja kesana”, jawabnya sambil menunjuk ke arah tempat makanan. Lalu aku menghampiri tempat makanan, ternyata benar, aku melihat El dari kejauhan. Aku tidak mendekatinya. Aku pengen tau, apakah dia masih ingat dengan ku. Secara dia kan udah pernah ketemu aku. Aku kembali duduk. Aku pura-pura tidak melihatnya. Beberapa menit kemudian, El menghampiriku dan berjabat tangan denganku sambil menanyakan kabarku. Setelah itu kami mengobrol. Dia bilang apakah aku masih inget dengan pertemuan kami di blok m waktu itu, lalu aku bilang aku masih inget, mana mungkin aku lupa dengan pertemuan itu, jawabku dalam hati. Dia bilang, selama ini dia masih di Jakarta . Ternyata handphone nya hilang, entah terjatuh dimana. Jadi dia nggak bisa menghubungi aku. Akhirnya kami tukeran nomor hp lagi. Aku kira saat itu El tidak mau bertemu lagi dengan ku karena pertemuan kami di Blok M itu. Aku kira dia kecewa terhadapku. Ternyata tidak dan tidak seburuk yang aku bayangankan. Aku cukup kaget dengan kejadian hari ini. Aku bertemu lagi dengan El. Tapi aku bahagia bisa bertemu lagi dengan dia.
Saat itu, aku sedang mendengarkan radio dari handphone ku, dalam acara radio itu, ada seseorang yang menelpon dan mengirimkan salam pada temannya, dia bilang bahwa kabar dia baik-baik saja. Jadi temannya itu tidak usah khawatir. Dia menyebutkan namanya, yaitu Elwizar. Aku langsung tersentak, ternyata aku bermimpi. Dan itu terjadi, tiga bulan sebelum pertemuan ini. Mungkin mimpi itu pertanda bahwa aku akan bertemu dengan dia. Dan keadaan dia sekarang baik-baik saja.
Tapi, pada awal bulan September aku mencoba menghubungi El, ternyata nomor hp nya tidak aktif lagi. Sejak pertemuan keduaku dengan dia, memang aku dan dia jarang telepon atau sms. Aku nggak nyangka kalo hubungan komunikasi kami akan berakhir seperti dulu lagi dan waktu itu juga terjadi pada bulan September tahun lalu. Sebenarnya ada apa dengan bulan September? Mengapa harus setiap bulan September? Aku baru inget, kalo aku dan El kan sama-sama lahir pada bulan September dan pada tahun yang sama. Aku juga tidak mengerti. Mengapa kami berpisah begitu cepat. Mungkin ini sudah takdir dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan aku menyebut perpisahan tersebut dengan perpisahan dua September. Apa mungkin aku akan bertemu lagi dengan El pada saat bulan Agustus tahun depan? Dan mungkinkah akan berakhir lagi pada bulan Septembernya? Aku tidak tahu. Jika aku berjodoh dengan El mungkin bisa saja aku bertemu dia lagi. Semoga saja..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar