teks

My Diary.. My Inspirations..

Rabu, 19 Desember 2012

Cerpen : Pelangi Dimata Lingga



Pelangi Dimata Lingga
Oleh : Indah Jewel 

Pagi ini cuaca mendung dan hujan rintik-rintik. Jarum jam hampir menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku harus segera berangkat ke sekolah. Namaku Lingga, sekarang aku duduk dibangku kelas tiga SMA. Tidak terasa, aku akan memasuki bangku kuliah. Aku kembali lagi ke kota yang selalu macet ini, dan kota yang penuh dengan segala kenangan antara aku dan dia. Aku menempati rumahku yang dulu. Rumah yang juga penuh dengan cerita karena tidak jauh dari rumahku ada rumah seseorang yang selalu memberi warna dalam setiap hariku. Pagi ini adalah hari pertamaku masuk sekolah yang baru, lagi-lagi aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru, teman-teman yang baru dan sekolah yang baru. Ibu gurupun mulai mengabsen anak muridnya satu-satu. Tiba-tiba aku seperti mendengar nama Pelangi disebut.
Lalu aku langsung menoleh ke arah anak yang mengangkat tangan. Ternyata dia seorang anak perempuan. Dia mirip dengan Pelangi. Atau jangan-jangan dia adalah Pelangiku. Tapi mengapa dia tidak menyapaku, apakah dia sudah lupa denganku, atau memang sebenarnya dia bukanlah Pelangiku.

Pelangi adalah sahabatku sejak kecil. Sungguh menyenangkan bisa menjadi sahabatnya. Pelangi bukan hanya sahabat baikku tapi dia juga adalah my first loveTetapi aku tidak pernah mengungkapkan persaanku. Kami berpisah, karena aku pindah ke luar kota, saat itu kami kelas lima SD. Aku dan keluargaku pindah ke Palembang. Karena ayahku adalah seorang tentara angkatan darat atau TNI AD, maka sering ditugaskan ke daerah-daerah, jadi kami sering pindah-pindah tempat tinggal. Aku sangat sedih. Aku takut tidak bisa bertemu dengan Pelangi lagi. Ternyata takdir berkata lain. Sepertinya dia belum pindah.
Satu jam pelajaran sudah berlalu, bel istirahat pun berbunyi, aku langsung memberanikan diri mendekati anak perempuan tadi, lalu aku mengulurkan tangan untuk berkenalan. “Namaku Lingga, kamu siapa?” ucapku. Tapi aku terkejut saat ku lihat anak perempuan itu memakai gelang yang sama denganku yang juga dimiliki Pelangi. Tidak salah lagi, pasti dia adalah Pelangi. Lalu dia menjawab, “Aku Pelangi, apa kabar Ga?” “Udah lama ya, kita nggak ketemu”. “Apa...?? Jadi...kamu beneran Pelangi?”, ujarku. “Dan kenapa kamu tadi nggak manggil aku?”, sambungku lagi. Dengan suaranya yang seperti anak cowok itu, dia menjawab, “Aku pengen liat aja, apa kamu masih inget sama aku, jadi aku nunggu kamu duluan yang nyapa aku”. “Ya ampun, maaf ya Pelangi, aku memang agak sedikit lupa, soalnya kamu tambah cantik sih”, rayu ku padanya. “Ah, kamu bohong, kamu itu beneran lupa dan nggak inget sama aku, iya kan?”ujar Pelangi. “ Bener kok, aku nggak sengaja lupa sama kamu”. “Bagaimna kalau sekarang kita ke kantin, dan sebagai permintaan maaf, kamu aku traktir deh, gimana?”, rayuku padanya. “Oke”, jawab Pelangi.
Semua jam pelajaran hari ini sudah habis alias sudah selesai, aku ingin cepat pulang. Tapi, sepertinya aku tidak melihat Pelangi hari ini, kenapa ya dia tidak masuk sekolah. Akupun langsung ganti baju dan menuju rumah Pelangi. Ternyata, Pelangiku sedang sakit, mungkin dia terlalu giat belajar, sehingga kelelahan. Aku hanya menjenguk sebentar dan memberitahukan PR yang diberikan tadi di sekolah. Pelangi sempat cerita padaku, kalau dia itu ingin mengambil beasiswa ke luar negeri, yaitu masuk universitas yang ada di Australia dengan jurusan Design Grafis. Dia itu suka banget menggambar. Sedangkan aku ingin mengambil beasiswa di Amerika dengan jurusan Kedokteran.
Tidak terasa, UN yang kami tunggu-tunggu, akhirnya tiba dan selesai juga. Kami berusaha semaksimal mungkin. Dan kami bersyukur karena kami berdua lulus. Kami juga sudah mengikuti ujian beasiswa. Jadi kami hanya menunggu pengumuman kira-kira dua minggu dari sekarang. Untuk mengisi hari-hari penantian itu, aku dan Pelangi berencana untuk pergi berlibur ke suatu tempat rekreasi. Supaya bisa jadi kenang-kenangan untuk aku dan Pelangi. Keesokan harinya, kami dan dua orang teman kami yang lain yaitu Rio dan Jeni, kami pergi ke Seaworld, Ancol. Aku merasa sangat senang sekali hari ini. Aku berharap semoga ini menjadi kenangan terindah bagi aku dan Pelangi. Aku akan hampa tanpa Pelangi, karena dia selalu memberi warna dalam hidupku, seperti namanya, Pelangi. Indah dan memiliki berbagai warna yang begitu memikat hati siapa saja yang melihatnya.
Pagi-pagi sekali pintu kamarku sudah diketok-ketok, “Lingga...Lingga...” ucap ibuku. “Pelangi sudah datang, dia menunggu kamu, katanya kamu dan Pelangi mau melihat pengumuman beasiswa”. Aku langsung bangun dan terduduk dikasurku, “ya Tuhan..aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengan Pelangi untuk melihat pengumuman beasiswa itu”. Dengan secepat kilat aku mandi dan berpakaian serta bergegas keluar kamar. Bisa-bisa nanti Pelangi marah padaku.  “Maaf ya, aku kesiangan”. “Iya nggak apa-apa”, jawab Pelangi dengan suara lembutnya itu. Setibanya di tempat pengumuman, aku berpencar dengan Pelangi, karena kami beda lokasi pengumuman sesuai negara yang dituju. Aku sudah menemukan papan pengumuman itu, mataku terpaku di papan itu, ku gerakkan jariku untuk mencari namaku didaftar itu, Lingga Lazuardi, itu namaku, berarti.... aku LULUS. Rasanya aku ingin teriak dan berkata bahwa aku lulus. Tapi, handphoneku berbunyi, ada sms dari Pelangi, ternayata dia juga lulus. Syukurlah, terimakasih Tuhan. Akhirnya kamipun pulang bersama dengan perasaan yang bahagia.
Hari-hari yang berat, dua minggu sudah berlalu, tidak terasa akhirnya tiba juga hari dimana aku harus pergi untuk melanjutkan pendidikanku. Sedangkan Pelangi dua hari lagi baru berangkat. Dia mengantarku sampai ke bandara. Aku pasti akan sangat merindukan keluarga dan tentunya Pelangi. “Kamu jaga diri ya, jangan sakit, nanti kalau liburan, kita pulang ke tanah air dan liburan bersama”, ucapku padanya. “Oke... pasti, kamu juga yang baik ya disana”, jawab Pelangi. Kamipun berpisah. Aku langsung menuju pesawat. Pasti ini akan jadi hari yang berat bagiku.
Hari demi hari, minggu ke minggu dan bulan pun berlalu hingga berganti tahun, sekarang aku sudah memasuki masa-masa akhir pendidikanku. Kira-kira satu tahun lagi, aku akan lulus dari pendidikanku dengan jurusan kedokteran. Sebenarnya aku memilih jurusan ini karena aku ingin menjadi dokter bagi Pelangi yang dulunya sering sakit-sakitan. Dari situ, aku bercita-cita ingin menjadi dokter. Sekarang ini aku sedang sibuk sekali, banyak tugas dan laporan-laporan yang harus aku selesaikan, pastinya Pelangi juga sedang sibuk. Kami sering berkomunikasi lewat telepon atau e-mail. Tapi, belakangan ini memang kami jarang berkomunikasi, karena memang sangat sibuk. Saat liburan tahun lalu kami sempat bertemu di tanah air, kami berlibur bersama. Dan sekarang ini sepertinya tidak bisa pulang, nanti saja sekalian setelah selesai wisuda. Yang terpenting bagiku adalah bahwa Pelangi baik-baik saja disana. Aku harus bekerja keras supaya bisa lulus dan mendapat nilai terbaik. Agar keluarga dan Pelangi bangga padaku. Dan yang paling penting, aku bisa bersama Pelangi selamanya.
Walau ada sedikit masalah dalam laporan dan tugas akhirku, tapi semuanya selesai tepat waktu dan akhirnya aku menyelesaikan pendidikanku, dan lulus meski tak dapat nilai tertinggi, tapi lumayanlah. Aku menghubungi Pelangi, ternyata satu minggu yang lalu dia sudah sampai di Indonesia. Sedangkan aku, hari ini baru akan berangkat dan meninggalkan negara ini. Sudah tidak sabar rasanya ingin cepat pulang dan sampai dirumah tercinta. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya aku tiba di bandara tanah air, Soekarno-Hatta. Ternyata Pelangi tidak menjemputku, dia bilang hanya menunggu dirumah. Akupun langsung naik taksi dan menyuruh supirnya untuk menambah kecepatan laju mobilnya agar aku cepat sampai dirumah. Dan tiba-tiba, ada sebuah truk besar melaju dari arah yang berlawanan dengan kencang menabrak kearah mobilku dan saat itu juga aku merasa semuanya gelap, tak ada cahaya.
Ketika aku sadar, aku merasa sepertinya aku sudah di rumahsakit. Tapi ada yang aneh denganku, mengapa semua terasa gelap dan tak terlihat. Tapi aku mendengar suara keluarga ku disini. Sebenarnya apa yang terjadi denganku. Akupun memanggil mama ku dan berkata padanya untuk menyalakan lampu, “mah,,kenapa disini gelap sekali, aku tidak bisa melihat apapun ma, tolong nyalakan lampunya ma”. Mama tidak menjawab ku dan aku hanya mendengar suara tangisan mama. Ada apa sebenarnya ma? Kenapa mama nangis? Aku tak tahan lagi dengan keadaan gelap ini, akupun berteriak, “kenapa, kenapa dengan mataku”! “apakah aku tidak bisa melihat lagi ma”? “aku mohon ma, beritahu aku”. Dengan suara tersedu-sedu mama menjawab, “sabar ya Lingga, kamu akan baik-baik saja, tenang ya, kamu pasti sembuh dan bisa melihat lagi”. Ternyata akibat dari kecelakaan itu mataku tidak bisa melihat lagi, aku sangat sedih dan kecewa karena aku tidak bisa melihat Pelangiku lagi. Aku sangat terpukul dengan kejadian ini, aku merasa tidak pantas bertemu dengan Pelangi. Aku hanya akan membuatnya sedih.
 Hari ini adalah hari ketiga aku berada di rumahsakit, aku hanya bisa berbaring saja di tempat tidur, menunggu seperti orang bodoh. Aku memang sengaja bilang pada mama agar jangan beritahu Pelangi bahwa aku berada di rumahsakit. Ternyata Pelangi benar-benar tidak datang menjenguk aku, jujur aku merasa sangat sedih. Aku merasa tidak berguna. Dan tadi mama berkata padaku bahwa ada donor mata untuk aku. Apabila donor itu cocok untuk ku maka aku dipastikan bisa melihat lagi setelah selesai operasi. Tadinya aku tidak mau menerima donor itu tetapi mama selalu memberiku semangat dan apalagi kalau sudah membahas mengenai Pelangi. Aku langsung bersemangat karena aku ingin bertemu dengan Pelangi secepatnya. Aku tidak sabar menunggu moment itu.
Sekarang saatnya aku melakukan pemeriksaan kornea mata, untuk memastikan apakah donor mata itu cocok dengan mata ku. Dan setelah itu aku tinggal menunggu hasil laporannya. Aku berharap donor itu cocok untuk ku. Lalu pada sore harinya, mama sudah menerima hasil tes itu. Dan mama membawa kabar yang tidak menggembirakan, karena donor mata itu tidak cocok untuk aku. Aku sudah berharap dan semua sirna begitu saja saat mendengar kabar itu. Aku merasa putus asa. Seakan-akan semua sudah berakhir.
Pagi ini aku sedang berbaring di tempat tidur, aku masih di rumah sakit, aku tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya berbaring di tempat tidur. Sangat bosan. Seperti biasa, setiap pagi pasti dokter datang ke kamarku untuk memeriksa keadaanku, dan kali ini dokter memberikan kabar gembira, karena ada donor kornea mata yang cocok untukku. Siang nanti aku akan melakukan operasi. Tuhan, aku berharap semoga semua berjalan lancar.
Satu minggu telah berlalu setelah operasi itu, aku pun bersyukur kepada Tuhan, karena bisa melihat lagi, melihat indahnya langit cerah, terangnya sinar mentari dan tentu begitu cantiknya Pelangi, walau hanya melihat dari fotonya saja. Hari ini aku akan pulang kerumah tapi sebelumnya aku ingin bertanya kepada dokter tentang pendonor yang telah mendonorkan matanya untukku, paling tidak aku ingin berterimakasih kepada keluarganya. Sayang sekali, dokter atau pihak rumahsakit tidak mau memberikan identitas dan alamat pendonor itu. Aku hanya bisa berdoa untuk orang itu semoga dia selalu bahagia dimanapun dia berada.
Hari ini aku ingin pergi kerumah Pelangi, semoga dia masih mau bertemu denganku. Aku pergi kesana bersama saudara sepupuku. Setibanya disana, aku melihat ada papan bertuliskan bahwa rumah ini dijual. Aku jadi bingung, apakah Pelangi pindah rumah. Kebetulan ada orang sedang menyapu disebelah rumah Pelangi, aku pun bertanya kepada tetangga disebelah rumah itu, “maaf Bu, saya mau tanya, orang yang tinggal disebelah ini pindah kemana ya?”, tanya ku. “wah, saya tidak tahu mas, satu minggu setelah anaknya meninggal, ibu itu langsung pindah rumah, mungkin karena tidak mau teringat dengan anaknya lagi”, jawab ibu itu. “Apa?? maaf bu, tolong ulangi sekali lagi, siapa yang meninggal, anaknya????”, ujarku dengan penuh tanya. “Iya mas, anaknya ibu itu, yang perempuan yang namanya Pelangi”. Jantungku seakan berhenti berdetak kala ibu itu menyebut nama Pelangi, aku pun terperanjat saat itu juga, seakan hampa, tak ada suara, dan semuanya gelap.
Aku tidak percaya dengan kata-kata ibu tadi, buktinya Pelangi masih ada dihadapanku sekarang, “bener kan kamu nggak pergi tinggalin aku, ibu itu bohong kan, jawab aku Pelangi”. “Itu semua bener Ga, aku harus pergi dari sisi kamu, maafin aku karena nggak bisa bersama kamu untuk selamanya”. “Pelangi...kamu nggak boleh pergi”. “Pelangi,,, Pelangi,,,Pelangi.....! Aku ada dimana ini. Ada apa denganku? Mana Pelangi? Adi, kita ada dimana, Pelangi mana?”, tanya ku pada Adi. “Kita ada dirumah sakit Ga, tadi kamu pingsan ketika kita berada dirumah Pelangi”. Pasti semua ini bohong, supaya aku tidak mencari Pelangi lagi, pasti ini karena dia menghindar dariku. Iya kan? Aku harus mencari informasi tentang semua ini, aku harus menghubungi teman dekat Pelangi, Romi dan Jeni.
Ketika aku akan pergi kerumah Romi atau Jeni, ternyata mereka datang kerumahku. Mereka benar-benar memberikan kabar yang menyayat hatiku ini, mereka menceritakan semuanya, mereka bilang kalau Pelangiku benar-benar menderita dengan penyakitnya itu, mungkin ini yang terbaik untuk dia, aku harus menerima kenyataan pahit ini, bahwa Pelangiku telah pergi untuk selamanya. Dan aku pun meminta mereka untuk menghantar ku ke tempat peristirahatan terakhir Pelangi. “Kami percaya bahwa Pelangi tidak benar-benar meningalkan kamu Ga, karena dia akan selalu ada didalam diri kamu”. “Karena Pelangi selalu ada dimata kamu, Lingga”. “Apa yang kamu lihat, maka dia juga melihatnya”. Mendengar perkataan mereka, aku pun tersadar dan aku tidak tahu apakah aku meneteskan air mata kepedihan atau kebahagiaan dari matamu ini. The end...

2 komentar:

  1. nice share, thanks
    http://omsambudy.blogspot.com/2013/05/cara-trik-mengetahui-sahabat-blogger.html?showComment=1369471394137#c3335386109721814208

    BalasHapus